Kata
qalbu lebih tepatnya berarti hati yang menerima limpahan cahaya kebenaran
ilahiyah yaitu ruh. Pengertian qalbu dari qalaba yang artinya berubah ubah,
berbolak balik, tidak konsisten, berganti ganti. Qalbu merupakan lokus atau
tempat di dalam wahana jiwa manusia yang merupakan titik sentral atau awal
segala yang menggerakkan perbuatan manusia yang cenderung kepada kebaikan dan
keburukan. Dengan qalbu itulah Allah ingin memanusiakan manusia, memuliakannnya
dari segala mahluk yang diciptakannya.
Qalbu
selain memiliki fungsi indrawi, di dalamnya ada rohani, yaitu moral dan nilai
nilai etika. Artinya dialah yang menentukan tentang rasa bersalah, baik buruk,
serta mengambil keputusan berdasarkan tanggung jawab moralnya tersebut.
Hal
ini juga dikatakan oleh Ahmad bin Hadhrawaih bahwa hati adalah wadah. Jika
wadah itu penuh dengan kebaikan, maka cahaya-cahaya kebajikan (yang ada di
dalamnya) akan keluar menyinari anggota-anggota tubuhnya. Jika wadah itu penuh
dengan kebatilan, maka kegelapan yang ada di dalamnya akan bertaubah ketika
sampai pada anggota tubuhnya.
Ada
beberapa potensi qalbu yang terus menerus saling berebut kekuasaan yaitu fuad,
shadr, hawa dan nafs.
Fuad,
merupakan potensi qalbu yang berkaitan dengan indrawi, mengolah informasi yang
sering dilambangkan berada dalam otak manusia, (fungsi rasio, kognitif).
Pengawal setia sang fuad adalah akal, zikir, fikir, pendengaran dan
penglihatan. Akal berkaitan dengan keadaan untuk menangkap seluruh gejala alam
yang tampak nyata. Zikir dalam kaitan sebagai potensi fuad merupakan saudara
kembar dari zikir.
Shadr,
mempunyai potensi besar untuk menyimpan hasrat, kemauan, niat kebenaran dan
keberanian yang sama besarnya dengan kemampuannya untuk menerima kejahatan dan
kemunafikan. Shadr ini lebih dekat dengan perasaan, baik itu yang baik maupun
yang buruk.
Hawa,
merupakan potensi qalbu yang menggerakkan kemauan. Di dalamnya terdapat ambisi,
kekuasaan, pengaruh dan keinginan yang mendunia.
Nafs,
adalah muara yang menampung hasil olah fuad, shadr dan hawa yang kemudian
menampakkan dirinya dalam bentuk perilaku nyata di hadapan manusia lain. Nafsu
yang mempresentasikan dari ada (being) menjadi mengada (be coming).
Dari
keempat potensi qalbu ini manusia akan kelihatan apakah manusia bisa berlaku
baik atau tidak, potensi-potensi ini yang mempengaruhinya, karena pada dasarnya
seluruh perbuatan orang adalah pancaran dari hatinya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar