أَلآ وَإِنَّ فِي الْجَسَدِ مُضْغَةً، إِذَا صَلَحَتْ
صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ، وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ، أَلآ
وَهِيَ الْقَلْبُ
“Ketahuilah,
sungguh di dalam tubuh itu ada segumpal daging. Jika daging tersebut baik,
baiklah seluruh tubuh. Jika rusak, rusaklah seluruh tubuh. Ketahuilah, segumpal
daging itu adalah kalbu (jantung).” (HR.
al-Bukhari dan Muslim)
Hadits
di atas adalah penggalan akhir dari sebuah hadits yang disampaikan oleh sahabat
yang mulia, Abu Abdillah an-Nu’man ibnu Basyir radhiallahu ‘anhuma, dari
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang awalnya berbicara tentang
halal, haram, dan musytabihat (syubhat, tidak jelas halal haramnya).
Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam memberitakan bahwa di dalam tubuh kita ada
mudhghah, yaitu potongan daging yang ukurannya bisa dikunyah. Ukurannya
kecil, namun kedudukannya besar. Dialah kalbu atau dalam bahasa kita jantung. Dalam
ungkapan sehari-hari, sering disebut dengan istilah “hati”, meski sebenarnya
jantung.
Jantung
adalah organ yang vital bagi makhluk hidup. Di dalam jantung, Allah ‘azza wa
jalla meletakkan pengaturan kemaslahatan yang diinginkan makhluk hidup.
Anda dapati hewan dengan beragam jenisnya bisa mengetahui apa yang maslahat
baginya. Ia dapat membedakan antara maslahat dan mudarat.
Adapun
makhluk hidup yang bernama manusia, saya, Anda dan kita semua, Allah ‘azza
wa jalla mengistimewakan dengan akal, yang Dia letakkan di jantung.
أَفَلَمۡ يَسِيرُواْ فِي
ٱلۡأَرۡضِ فَتَكُونَ لَهُمۡ قُلُوبٞ يَعۡقِلُونَ بِهَآ أَوۡ ءَاذَانٞ يَسۡمَعُونَ
بِهَاۖ
“Tidakkah mereka berjalan di muka bumi hingga mereka memiliki jantung-jantung yang dengannya mereka bisa berpikir (berakal) atau telinga yang dengannya mereka bisa mendengar?” (al-Hajj: 46) (Syarh al-Arba’in Haditsan an-Nawawiyah, karya al-Imam Ibnu Daqiqil ‘Id rahimahullah, hlm. 30—31)
Bagaimanakah
keterkaitan jantung dengan akal?
Kata
asy-Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah, kita mengimani keterangan
al-Qur’an bahwa akal terletak dalam jantung, meski kita tidak mengetahui
bagaimana keterkaitannya. (Syarh al-Arba’in an-Nawawiyah, asy-Syaikh
Ibnu Utsaimin, hlm. 134)
Allah
‘azza wa jalla menjadikan seluruh tubuh tunduk patuh kepada jantung. Apa
yang menetap di dalam jantung akan tampak pada pergerakan tubuh. Jika jantung
tersebut baik, tubuh baik pula. Sebaliknya, apabila buruk, tubuh pun buruk.
Sebab, jantung merupakan sumber gerakan tubuh dan keinginan jiwa. Jika jantung
menginginkan hal yang baik, tubuh bergerak dengan pergerakan yang baik.
Demikian pula sebaliknya.
Kesimpulannya,
kata sebagian ulama, jantung seperti raja dan tubuh seperti rakyat. Adapula
yang mengatakan, jantung adalah raja, sedangkan anggota tubuh yang lain adalah
tentaranya yang sangat patuh, mengikuti semua titah sang raja tanpa sedikit pun
menyelisihinya.
Jantung
bisa pula seperti sumber air, sementara tubuh adalah ladangnya. Atau ungkapan
lain, jantung adalah tanah, sedangkan gerakan tubuh adalah tetumbuhan yang ada
di atasnya.
وَٱلۡبَلَدُ ٱلطَّيِّبُ
يَخۡرُجُ نَبَاتُهُۥ بِإِذۡنِ رَبِّهِۦۖ وَٱلَّذِي خَبُثَ لَا يَخۡرُجُ إِلَّا
نَكِدٗاۚ
“Tanah
yang baik akan keluar (tumbuh subur) tanam-tanamannya dengan izin Allah dan
tanah yang jelek tidak bisa tumbuh (di atasnya) tumbuh-tumbuhan kecuali dalam
keadaan merana.” (al-A’raf: 58)
Ada
yang mengatakan, baiknya jantung bisa dicapai dengan lima hal:
- Membaca al-Qur’an dengan mentadabburinya,
- Mengosongkan perut (dengan banyak berpuasa),
- Shalat malam,
- Merendahkan diri kepada Allah ‘azza wa jalla ketika waktu sahur, dan
- Bermajelis dengan orang-orang salih.
Satu
lagi sebagai pokoknya adalah memakan makanan yang halal. (al-Mu’in ‘ala
Tafahhum al-Arba’in, al-Allamah Ibnul Mulaqqin rahimahullah, hlm.
126—127)
Hadits
tentang kalbu alias jantung di atas mendorong agar kita memerhatikan kalbu kita
lebih dari perhatian kita terhadap amalan anggota tubuh. Sebab, kalbu itulah
poros amalan. Apa yang tersimpan dalam kalbu, itulah yang akan ditampakkan
kelak pada hari kiamat.
أَفَلَا يَعۡلَمُ إِذَا بُعۡثِرَ مَا فِي
ٱلۡقُبُورِ ٩ وَحُصِّلَ
مَا فِي ٱلصُّدُورِ ١٠
“Maka
apakah dia (manusia yang ingkar) tidak mengetahui apabila dibangkitkan apa yang
ada di dalam kubur, dan dilahirkan (ditampakkan) apa yang ada di dalam dada.” (al-‘Adiyat: 9—10)
إِنَّهُۥ عَلَىٰ رَجۡعِهِۦ لَقَادِرٞ ٨ يَوۡمَ تُبۡلَى
ٱلسَّرَآئِرُ ٩
“Sesungguhnya
Allah benar-benar kuasa untuk mengembalikannya (menghidupkannya setelah
mematikannya). Pada hari ditampakkan segala rahasia.” (ath-Thariq: 8—9)
Karena
itu, pesan untuk kita semua: bersihkanlah kalbu dari noda syirik, kotoran
bid’ah, sampah maksiat, dan kerendahan akhlak.
Satu
lagi yang perlu menjadi perhatian kita. Hadits ini memuat bantahan kepada para
pelaku maksiat yang ketika dilarang dari maksiat mereka berkata, “Yang penting
itu yang di sini!” sembari menunjuk dada mereka. Seperti perempuan yang tidak
berhijab, ketika dinasihati untuk menutup aurat, dia berkata, “Bagi saya yang
paling penting adalah menghijabi hati.”
Subhanallah! Memang benar, yang penting adalah apa yang ada di dalam
dada, yaitu kalbu. Di dalamnyalah letak takwa. Akan tetapi, apabila kalbu
bertakwa, niscaya akan tampak pengaruhnya pada amalan tubuh. Pastilah amalan
tubuhnya pun berupa ketakwaan.
Bagaimana
bisa seseorang yang tubuhnya dia bawa berbuat maksiat, tubuhnya tidak dihijabi
dari pandangan yang bukan mahram, lalu berdalih, “Yang penting yang di dalam,
yang penting hijab hati.” Wallahul musta’an. (Lihat Syarh al-Arba’in
an-Nawawiyah, hlm. 133—134)
Kalbu
yang Sehat
Jika
kalbu hamba sehat, tidak ada di dalamnya selain kecintaan kepada Allah ‘azza
wa jalla, mencintai apa yang dicintai-Nya, takut kepada-Nya, dan takut
apabila terjatuh dalam perbuatan yang dibenci-Nya, niscaya akan baik gerakan
seluruh anggota tubuhnya.
Ini
akan mengantarkan hamba untuk menjauhi seluruh yang diharamkan dan menjaga diri
dari syubhat karena khawatir jatuh ke dalam yang haram.
Adapun
kalbu yang rusak dan dikuasai oleh hawa nafsu, lantas mengikuti semua
kesenangan jiwa walaupun dibenci oleh Allah ‘azza wa jalla , niscaya
akan rusak seluruh gerakan anggota tubuhnya. Disusul pula dengan melakukan
seluruh maksiat, mendekati yang syubhat sesuai dengan keinginan hawa nafsunya.
Di
sisi Allah ‘azza wa jalla kelak, tidak bermanfaat selain qalbun salim,
kalbu yang sehat, sebagaimana firman-Nya,
يَوۡمَ لَا يَنفَعُ مَالٞ وَلَا بَنُونَ ٨٨ إِلَّا مَنۡ أَتَى ٱللَّهَ
بِقَلۡبٖ سَلِيمٖ ٨٩
“Hari
yang tidak bermanfaat padanya harta dan anak-anak, kecuali yang datang kepada
Allah dengan hati yang selamat.” (asy-Syu’ara:
88—89)
Maksudnya,
kalbu yang selamat dari penyakit-penyakit dan seluruh hal yang dibenci. Kalbu
yang tidak ada di dalamnya selain mahabbatullah (cinta kepada Allah ‘azza
wa jalla), takut kepada-Nya, dan khawatir jatuh ke dalam urusan yang dapat
menjauhkan dari Allah ‘azza wa jalla.
Tidak
akan baik sebuah kalbu kecuali apabila menetap padanya ma’rifatullah
(mengenal Allah ‘azza wa jalla ), mengetahui keagungan-Nya, cinta dan
takut kepada-Nya, berharap dan tawakal kepada-Nya.
Inilah
hakikat tauhid yang merupakan makna La ilaha illallah. Tidak ada
kebaikan bagi kalbu kecuali saat menjadikan Allah Yang Maha Esa sebagai
sesembahan yang diibadahi, yang dicintai, dan ditakuti, tidak ada sekutu
bagi-Nya.
Sebagai
penutup, kita nukilkan ucapan al-Imam al-Hasan al-Bashri rahimahullah
berikut ini. Beliau rahimahullah menghikayatkan dirinya, “Tidaklah aku
memandang mataku, tidaklah lisanku berucap, tidak pula tanganku menggenggam,
dan tidaklah kakiku melangkah, hingga aku memikirkan, apakah ini di atas
ketaatan kepada Allah ‘azza wa jalla ataukah di atas maksiat? Jika untuk
ketaatan, aku lakukan. Jika ternyata untuk maksiat, aku mundur, tidak jadi
melanjutkannya.”
Masya
Allah! Saya, Anda, dan kita semua,
bagaimana?
Al-Hasan
al-Bashri rahimahullah tergolong orang yang tatkala baik kalbunya dan
tidak menyisakan keinginan kepada selain Allah ‘azza wa jalla, akan
baiklah anggota tubuhnya yang lain. Anggota badannya tersebut tidak bergerak
kecuali karena Allah ‘azza wa jalla, untuk melakukan sesuatu yang
mendatangkan ridha-Nya. Wallahu a’lam. (Jami’ al-Ulum wal
Hikam, al-Hafizh Ibnu Rajab al-Hambali rahimahullah, hlm. 119—121)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar