Al-Qur’an al-karim adalah kitab samawi yang
paling terakhir diturunkan kepada nabi Muhammad saw. dan berfungsi sebagai
petunjuk bukan hanya terhadap anggota masyarakat Arab, akan tetapi juga bagi
seluruh umat manusia hingga akhir zaman. Al-Qur’an memuat seluruh aspek
kehidupan manusia, baik aspek vertikal maupun horizontal bahkan hubungan dengan
alam semestapun tertera dalam al-Qur’an.
Ayat al-Qur’an memiliki keserasian hubungan yang
amat mengagumkan, sama dengan keserasian hubungan yang memadukan gejolak dan
bisikan-bisikan nurani manusia sehingga menjadi perpaduan yang indah untuk
mengingatkan manusia bahwa ajaran-ajarannya adalah satu kesatuan terpadu yang
tidak dapat dipisahkan. Olehnya itu, terlihat betapa al-Qur’an memadukan usaha
dan pertolongan Allah, akal dan qalb, pikir dan zikir, iman dan ilmu
dengan memperhatikan unsur manusiawi, jiwa, akal, dan jasmani untuk
mengantarkan manusia kepada kesempurnaan kemanusiaannya.
Qalb merupakan suatu anugerah Allah swt. yang
diberikan kepada manusia yang mempunyai kedudukan dan fungsi yang sangat
penting dan utama, sebab qalb berfungsi sebagai penggerak dan
pengontrol anggota tubuh lainnya.
Qalb adalah salah satu aspek terdalam dalam
jiwa manusia yang senantiasa menilai benar salahnya perasaan, niat,
angan-angan, pemikiran, hasrat, sikap dan tindakan seseorang, terutama dirinya
sendiri. Sekalipun qalb ini cenderung menunjukkan hal yang benar dan
hal yang salah, tetapi tidak jarang mengalami keragu-raguan dan sengketa batin
sehingga seakan-akan sulit menentukan yang benar dan yang salah. Tempat untuk
memahami dan mengendalikan diri itu ada dalam qalb. Qalbu-lah yang
menunjukkan watak dan jati diri yang sebenarnya. Qalbu-lah yang membuat
manusia mampu berprestasi, bila qalbu bening dan jernih, maka
keseluruhan diri manusia akan menampakkan kebersihan, kebeningan, dan
kejernihan. Yang suatu saat akan dimintai pertanggungjawaban terhadap apa yang
dilakukan oleh indera manusia sejak berada di dunia.
Sebagaimana terdapat dalam QS al-Isrā’/17: 36:
وَلَا
تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ
كُلُّ أُولَئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا
Terjemahnya:
“Dan janganlah kamu mengikuti sesuatu yang tidak
kamu ketahui. Karena pendengaran, penglihatan dan hati nurani, semua itu akan
diminta pertanggungjawabannya”.
Peranan qalb menjadi sangat penting
sekali melihat potensi-potensi yang ada di dalamnya. Termasuk potensi untuk
selalu mengarahkan manusia ke arah kebaikan. Dalam pandangan al-Ghazali bahwa
manusia dengan nalar qalb-nya pada dasarnya dapat membenarkan wahyu Allah
swt. meski daya rasionalnya menolak. Dengan demikian, adanya
potensi qalb sangat dimungkinkan memiliki fungsi menuntun seseorang
ke arah kesalihan tingkah laku lahiriah sesuai yang digariskan wahyu yang
bersifat supra rasional.
Jika daya rasa positif dapat diupayakan untuk
selalu diberdayakan dengan baik, maka potensi ini sangat memungkinkan untuk
dijadikan sebagai media pengembangan tingkah laku lahiriah yang salih dan
berbasis rasa cinta, senang, riang, dan rasa persaudaraan. Namun jika daya rasa
negatif yang dibiarkan, tanpa adanya upaya pengendaliannya, maka perilaku yang
nampak dipermukaan cenderung selalu menolak terhadap kebenaran, sekalipun
datangnya dari Tuhan. Hal tersebut dapat secara mudah terjadi kapan saja
disebabkan keadaan psikologis seseorang sudah didominasi dengan adanya daya
rasa yang berupa kebencian dan ketidaksenangan yang dalam bahasa al-Ghazali
disebut al-ghadab.
Al-Qur’an juga memberikan ketegasan tentang
keharusan mempergunakan al-qalb untuk merasakan dan menghayati, untuk
meningkatkan kualitas diri seseorang, sebagaimana firman Allah swt dalam QS
al-Hadid/57: 16.
أَلَمْ يَأْنِ لِلَّذِينَ آَمَنُوا أَنْ تَخْشَعَ
قُلُوبُهُمْ لِذِكْرِ اللَّهِ وَمَا نَزَلَ مِنَ الْحَقِّ وَلَا يَكُونُوا
كَالَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلُ فَطَالَ عَلَيْهِمُ الْأَمَدُ
فَقَسَتْ قُلُوبُهُمْ وَكَثِيرٌ مِنْهُمْ فَاسِقُونَ
Terjemahnya:
“Belum tibakah waktunya bagi orang-orang yang
beriman, untuk secara khusyuk mengingat Allah dan mematuhi kebenaran yang telah
diwahyukan (kepada mereka), dan janganlah mereka (berlaku) seperti orang-orang
yang telah menerima kitab sebelum itu, kemudian mereka melalui masa yang
panjang sehingga hati mereka menjadi keras. Dan kebanyakan di antara mereka
menjadi orang orang fasik”
Ayat ini menegaskan betapa pentingnya mempergunakan daya al-qalb untuk merasa dan menghayati sesuatu. Salah satu cara untuk meningkatkan daya rasa al-qalb yang diharuskan oleh al-Qur’an adalah berzikir, seseorang akan menemukan ketenangan batin dan merasa dekat dengan Allah swt. Dengan merasa dekat kepada Allah swt. jiwa seseorang akan terkontrol. Sebaliknya, jika seseorang tidak memungsikan qalb-nya untuk berzikir, maka ia akan mengalami kekeringan jiwa, sebagaimana yang difirmankan Allah dalam QS Taha/20: 124.
وَمَنْ
أَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنْكًا وَنَحْشُرُهُ يَوْمَ
الْقِيَامَةِ أَعْمَى
Terjemahnya:
“Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku,
Maka sungguh, dia akan menjalani kehidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya
pada hari kiamat dalam keadaan buta”
Melihat begitu pentingnya keberadaan dan
kedudukan al-qalb dalam diri manusia, maka al-Qur’an sangat
memperhatikan dan banyak membicarakannya. Mengenal
hakikat al-qalb adalah hal yang sangat penting dalam kehidupan
manusia dan mempergunakannya dengan sebaik-baiknya adalah cara yang tepat untuk
menemukan kebenaran dan kebaikan. Sebab ada beberapa penyakit yang terkait
dengan qalb yang tidak bisa disembuhkan oleh tim medis sebagaimana
penyakit fisik.
Sumber :
Al-Qur’an
al-Karim dan Terjemahnya. Kementerian Agama RI. Surakarta:
Abyan, 1435 H/2014 M.
Al-Qattan, Manna’. Mabahis fi ‘Ulum
al-Qur’an. Cet. XIX; Bairut: Muassasah al-Risalah, 1406 H/1983 M.
Abdullah, Hadziq. Rekonsiliasi Psikologi
Sufistik dan Humanisti. Semarang: Rasail, 2005.
Al-Ghazali, Al-Imam. Ihya Ulum al-Din”. Dar
al-Ihya’ al-Kutub, t.th.
Shihab, M. Quraish. Sejarah dan Ulūm
al-Qur’ān. Jakarta: Pustaka Firdaus, 2001.
RAHMAT MULYADI :

Tidak ada komentar:
Posting Komentar